Boleh Zakat Fitrah Dengan Uang

Syaikh Khalil Bangkalan: Boleh Zakat Fitrah Dengan Uang

(ويجوز إخراج القيمة) عند بعض المحققين إسقاط لا أي ولا يجوز إخراج القيمة وهذا قول أكثر العلماء.

Syaikh Muhammad Khalil Bangkalan rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya Matan Syarif mengatakan, “Diperbolehkan pembayaran dengan nilai/uang untuk zakat fitri”.

KH Muhammad Ma’ruf Khazin Ma'ruf Khozin hafizhahullahu waffaqahu menjelaskan hal ini dengan mengatakan, 

“Menurut pandangan sebagian pengkaji dalam kalimat ini ada kata “tidak” yang hilang sehingga kandungan pesan kalimat ini adalah “tidak diperbolehkan pembayaran dengan nillai/uang untuk zakat fitri” dan ini adalah pendapat mayoritas ulama fikih. 

لكن جري أكثر شارح هذا الكتاب بظاهر النسخة. وبهذا تفرد شيخنا خليل عن جمهور الشافعية إلا أن يقال أنه قلد الحنفية لمصلحة راجحة.

Akan tetapi mayoritas pensyarah kitab mengikuti pesan tersurat dari naskah Matan Syarif, membolehkan pembayaran dengan nilai/uang untuk zakat fitri. 

Dengan ini Syaikh Khalil Bangkalan menyendiri dan tidak sejalan dengan mayoritas Syafiiyah. 

Hanya saja bisa kita katakan bahwa Syaikh Khalil Bangkalan dalam hal ini mengikuti Mazhab Hanafi karena pertimbangan maslahat yang lebih besar.

فقد قال الإمام النووي: لا تجزئ القيمة في الفطرة عندنا وبه قال مالك وأحمد وابن المنذر. وقال أبوحنيفة : يجوز وحكاه ابن المنذر عن الحسن البصري وعمر بن عبد العزيز والثوري. قال: وقال إسحاق وأبوثور: لا تجزئ إلا عند الضرورة.

Imam an-Nawawi mengatakan, “Nilai/uang itu tidak sah untuk zakat fitrah menurut kami (Mazhab Syafii). Ini merupakan pendapat Malik, Ahmad dan Ibnul Mundzir. Sedangkan menurut Abu Hanifah boleh. 

Menurut Ibnul Mudzir kebolehan pembayaran zakat fitrah dengan nilai/uang adalah pendapat al-Hasan al-Bashri, Umar bin Abdul Aziz dan ats-Tsauri. 

Sedangkan pendapat Ishaq bin Rahawaih dan Abu Tsaur, tidak sah pembayaran dengan nilai/uang kecuali dalam kondisi darurat (al-Majmu’ 6/144).

قال أبو حنيفة يجوز إخراج القيم في الزكوات والكفارات واختلف أصحابه في إخراج القيمة هل هي الواجب أو بدل عن الواجب على مذهبين.

Abu Hanifah berpendapat boleh membayar zakat dan kaffarah dengan nilai/uang. Hanya saja para ulama Mazhab Hanafi berbeda pendapat apakah kebolehan pembayaran dengan nilai/uang itu kewajiban asli ataukah pengganti kewajiban asli. Ada dua pendapat dalam Mazhab Hanafi terkait hal ini.

واستدلوا بما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال في صدقة الفطر: أغنوهم عن المسألة في مثل هذا اليوم والإغناء قد يكون بدفع القيمة.

Mereka, para ulama Mazhab Hanafi berdalil dengan hadis yang diriwayatkan dari Nabi SAW. Tentang zakat fitrah Nabi SAW bersabda, “Cukupilah mereka, orang-orang miskin sehingga tidak perlu meminta-minta di semisal hari ini” 
HR al-Baihaqi dan Daruquthni dari Ibnu Umar dengan redaksi “tidak perlu keliling-keliling”. 

“Mencukupi” itu bisa dengan pembayaran nilai (al-Hawi al-Kabir 3/389). [asy-Syarh an-Nazhif ‘ala Adillah al-Matn asy-Syarif karya KH Muhammad Ma’ruf bin Khazin hlm 151-152].

Sekian kutipan dari Asy-Syarh an-Nazhif.

Berdasarkan info yang langsung saya dengar dari KH Ma’ruf Khazin, yang tercantum di manuskrip asli kitab Matan Syarif karya Syaikh Khalil Bangkalan tidak ada huruf “laa” (tidak) untuk kalimat di atas. 

Fix ini menunjukkan bahwa pendapat pribadi/ikhtiyar Syaikh Khalil Bangkalan adalah kebolehan membayar zakat fitrah dengan nilai/uang. 

Berdasarkan kutipan dari Imam an-Nawawi di Majmu’ di atas bisa disimpulkan bahwa ada tiga pendapat ulama terkait menggunakan nilai/uang untuk pembayaran zakat fitrah.

Pertama, tidak boleh dan tidak sah apapun kondisinya. Ini pendapat Mazhab Malik, Syafii dan Ahmad.
Kedua, boleh dan sah dalam semua kondisi. Ini pendapat Imam Abu Hanifah.
Ketiga, boleh dalam kondisi darurat. Ini pendapat Ishaq bin Rahawaih dan Abu Tsaur.

Di antara ulama yang memilih pendapat boleh dan sah dalam kondisi tertentu sebagaimana pendapat Ishaq bin Rahawaih adalah Ibnu Taimiyah.

«مجموع الفتاوى» (25/ 82):
«وسئل رحمه الله: عمن أخرج القيمة في الزكاة؛ فإنه كثيرا ما يكون أنفع للفقير: هل هو جائز؟ أم لا؟»

Ibnu Taimiyah mendapatkan pertanyaan mengenai orang yang mengeluarkan nilai/uang untuk pembayaran zakat dengan alasan karena sering kali hal itu yang lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Apakah hal ini diperbolehkan ataukah tidak?

فأجاب: وأما ‌إخراج ‌القيمة ‌في ‌الزكاة ‌والكفارة ونحو ذلك. فالمعروف من مذهب مالك والشافعي أنه لا يجوز. وعند أبي حنيفة يجوز. وأحمد رحمه الله قد منع القيمة في مواضع وجوزها في مواضع ... والأظهر في هذا: أن إخراج القيمة لغير حاجة ولا مصلحة راجحة ممنوع منه ... وأما إخراج القيمة للحاجة أو المصلحة أو العدل فلا بأس به. اهـ.

Jawaban Ibnu Taimiyah sebagai berikut, “Terkait mengeluarkan nilai/uang untuk pembayaran zakat (mal), kaffarah dan semisal itu (baca: zakat fitrah) pendapat yang dikenal dalam Mazhab Malik dan Syafii hukumnya tidak boleh. 

Sedangkan menurut Abu Hanifah hukumnya boleh. 

Adapun Ahmad melarang pembayaran dengan nilai dalam beberapa hal dan membolehkan dalam beberapa kasus… 

Pendapat yang paling kuat dalam permasalahan ini adalah membayar dengan nilai/uang tanpa ada kebutuhan mendesak dan tanpa ada maslahat yang lebih besar hukumnya terlarang… 

Sedangkan membayar dengan nilai/uang karena kebutuhan mendesak atau maslahat atau menimbang rasa keadilan hukumnya tidak mengapa” Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 25/82-83.

Yang dimaksud dengan “semisal itu” dalam teks di atas adalah zakat fitrah menimbang zakat fitrah itu sejenis dengan kaffarah dalam pandangan fikih yang dianut oleh Ibnu Taimiyah.

صدقة الفطر من جنس الكفارات، هذه معلقة بالبدن وهذه معلقة بالبدن، بخلاف صدقة المال فإنها تجب بسبب المال من جنس ما أعطاه الله تعالى. 

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Zakat fitri itu satu jenis dengan kaffarah karena zakat fitri dan kaffarah keduanya berkaitan dengan badan/person. Lain halnya dengan zakat mal. 

Zakat mal itu wajib dengan sebab harta sehingga bentuk zakat yang dibayarkan semestinya sejenis dengan nikmat harta yang telah Allah berikan”  Majmu’ Fatawa 25/69.

صدقة الفطر وجبت طعاما للأكل لا للاستنماء. فعلم أنها من جنس الكفارات

“Zakat fitri itu diwajibkan dalam bentuk bahan makanan untuk komsumsi bukan untuk dikembangkan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa zakat fitri itu sejenis dengan kaffarah” Majmu’ Fatawa 25/75.

Alhamdulillah saya mendapatkan hadiah Kitab Asy-Syarh an-Nazhif langsung dari penulisnya, jazahullahu khairan.


0 Komentar