Keputusan pemimpin/hakim Mengangkat perbedaan (khilaf)

Dalam fiqih Islam ada kaidah penting:

حُكْمُ الحَاكِمِ يَرْفَعُ الخِلَافَ

“Keputusan pemimpin/hakim mengangkat perbedaan (khilaf).”

Artinya: jika dalam masalah ijtihadiyyah (yang diperselisihkan ulama), lalu pemerintah menetapkan satu pendapat, maka perbedaan tersebut selesai dalam praktik dan wajib diikuti demi persatuan.

Nabi ﷺ bersabda:“Puasa adalah hari kalian berpuasa, berbuka adalah hari kalian berbuka…”(HR. Tirmidzi no. 697, hasan)

➡️ Menunjukkan ibadah jama’i mengikuti keputusan bersama/pemimpin.Nabi ﷺ bersabda:“Wajib mendengar dan taat (kepada pemimpin) selama bukan maksiat.”(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)

Abdullah ibn Mas'ud tetap shalat mengikuti Uthman ibn Affan (4 rakaat di Mina), padahal beliau berpendapat 2 rakaat.

Beliau berkata:“Perbedaan itu buruk.”(HR. Abu Dawud no. 1960, shahih)

➡️ Demi persatuan, beliau meninggalkan pendapat pribadi.

Penjelasan Ulama:Imam Nawawi – Al-Majmu’ (20/102)Ibn Qudamah – Al-Mughni (11/456)Al-Qarafi – Al-Furuq (2/103)Ibn Abidin – Radd al-Muhtar (5/352)

➡️ Semua menegaskan:Keputusan hakim dalam perkara ijtihad menghilangkan khilaf.

Catatan penting:Berlaku pada masalah ijtihadiyyahTidak berlaku jika jelas melanggar Al-Qur’an dan Sunnah

Kesimpulan: Mengikuti keputusan pemimpin dalam perkara khilafiyah adalah bagian dari menjaga persatuan umat dan menghindari perpecahan.

Wallahu a’lam. 

0 Komentar