Perjanjian itu secara isinya menguntungkan musuh.. tapi Sayyiduna al-Habib ﷺ menerima karena Beliau ﷺ sangat penyayang pada umat, tidak ingin penumpahan darah, tidak menyukai peperangan, dan lagi saat Perjanjian damai itu dibuat, pasukan Islam masih lemah & tidak mampu melawan qabilah2 Arab yang bersekutu dengan kafir al-Quraisy. Dan masa gencatan senjata itu pun dipakai untuk menyebarkan Islam & memperkuat umat tanpa gangguan perang dengan Quraisy.
Di antara isinya adalah: jika ada warga Makkah yg pergi ke Madinah, maka Sayyiduna Nabi ﷺ harus mengembalikannya ke Mekkah, sementara kalau ada warga Madinah yang ke Makkah, maka Quraisy tidak mengembalikannya.
Nah, pasca perjanjian itu.. datang lah Abu Bisyr radhiyallahu 'anhu, muslim yang lemah di Makkah yang lari ke Madinah.. Beliau ﷺ pun marah pada Abu Bisyr "Wailahu (kata kesal) yang membangkitkan peperangan".. jadi Abu Bisyr tidak diterima di Madinah...
Apakah itu artinya Sayyiduna Nabi ﷺ tidak peduli nasib muslim yg lemah & teraniaya di Makkah?
Tentu saja peduli, sebelum waktu yang ditakdirkan Allah, maka kita berdo'a.. usaha/tawakkal tidak hanya dengan tindakan luar, tapi do'a lebih kuat karena kita meminta pada Allah SWT Yang Maha Kuat.. do'a umat Islam itu menggoyang 'arsy ar-Rahmaan..
Sepulang penolakan dari Madinah, Abu al-Bisyr pun pergi ke kawasan pinggir laut, bukan kawasan Madinah & bukan juga kawasan Makkah..
Nah, para muslimin yang tertekan di Makkah pun bergabung dengan Abu al-Bisyr.. akhirnya sampai 300 orang..
Mereka pun mengganggu kafilah al-Quraisy yg melewati kawasan itu..
Abu al-Bisyr meninggal di sana dan dimakamkan... Di sisi maqam, dibangun masjid.. Dan itulah masjid pertama yang berada di samping kuburan di zaman Sayyiduna Nabi ﷺ, seandainya itu perkara syirik tentu sudah Beliau ﷺ perintahkan untuk menghancurkannya..
Nah.. para Quraisy yang terganggu dengan olah pasukan Abu al-Bisyr, memohon pada Sayyidina Nabi ﷺ untuk menerima mereka.
Begitulah sebagaimana Rasulullah ﷺ marah saat kedatangan Abu al-Bisyr di Madinah, maka kita juga kesal "Wailakum wahai pencetus peperangan".. bukanlah suatu kecerdasan membunuh beberapa orang musuh yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan saudara muslim..
Para pemuda itu akan berkomentar: "Terus kita berdiam diri saja begitukah yang kalian inginkan wahai kaum sufi?".
Berdiam diri karena Allah itu merupakan gerakan yang paling kuat... Dan do'a kaum lemah itu merupakan senjata terkuat.. Sayyiduna Rasulullah ﷺ bersabda pada pasukan Beliau ﷺ: "Kalian itu dimenangkan Allah berkat orang-orang lemah kalian" tidak mengatakan dengan berkat anggota pasukan yang kuat..
Jangan menganggap bahwa senjata dll yang memenangkan kita.. kita akan menang karena Allah pada saat yang diinginkan Allah SWT.
Jadi.. kita bisa bertindak dengan do'a... kita mengambil senjata do'a... senjata terkuat yang ada karena bergantung pada Allah Yang Maha Kuat..
Jangan pernah berputus asa.. karena musuh menginginkanmu hal itu dari kita...
~ Faedah saat Maulana menjelaskan tentang tingkatan2 tawakkal di dars rabu malam, 18 Oktober 2023.
Mari terus mendo'akan para saudara kita yang lemah & tertindas..
Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani al-Husaini hafizhahullah bercerita tentang perjanjian gencatan senjata di al-Hudaibiyah yang disepakati kakek beliau, Sayyiduna al-Habib ﷺ..
Cr FB Hilma Rosyida Ahmad
0 Komentar