Kenapa Sya'ban disebut bulannya Nabi ?



رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعَبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ

Riwayat diatas terdapat dalam beberapa kitab hadits, seperti Tabyinul Ajab milik Ibnu Hajar al-Asqolani (w: 852 H), al-Asror al-Marfu'ah milik Mula Ali Qori (w: 1014 H), Nailul Author milik al-Syaukani (w: 1250 H), Tarikhul Islam karya al-Dzahabi (w: 748 H), Mu'jamus Syuyukh karya Ibnu Asakir (w: 571 H) dan al-Manar al-Munif milik Ibnul Qayyim (w: 751 H) yang mana kurang lebih artinya adalah Rajab itu bulannya Allah, Sya'ban adalah bulan Rasulullah sementara Ramadhan adalah bulannya umat Rasulullah

Lalu yang menjadi pertanyaan, Kenapa Sya'ban disebut sebagai bulannya Nabi ? 

Menurut Syaikhina Maimoen Zubair, Sya'ban disebut sebagai bulannya Nabi, sebab bulan itu adalah bulan yang paling dicintai dan dikenang oleh Nabi sendiri, bahkan tercatat pada bulan Sya'ban itu beliau tercatat melakukan puasa paling banyak

" Sya'ban meniko Wulan ingkang paling
  didemeni kanjeng Nabi, Sebab Wulan
  niku ingkang paling dikenang lan paling
  diangen-angen dining kanjeng Nabi,
  Sampek kanjeng Nabi siyam paling
  katah niku teng Wulan Sya'ban.."

Hal ini dikarenakan pada bulan itu Nabi pertama kali dibukakan oleh Allah bashirohnya (mata batinnya) yang kemudian menjadikan beliau menuju gua Hira pada bulan Ramadhan, yang selanjutnya pada 17 Ramadhan bertepatan dengan 8 Agustus 611 Masehi beliau mendapat Wahyu pertama berupa QS. al-Alaq:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ (١) خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ (٢) إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ (٣) الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ (٤) عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ (٥)

Penjelasan saat acara Akhirussanah Ahbabun Nabi pada 28 Juli 2011 M itu kemudian Beliau lanjutkan dengan keterangan, bahwa bashiroh adalah penglihatan mata hati, sementara bashor adalah penglihatan mata biasa, sehingga Seseorang dapat menjadi kekasih Allah bila mana mata hati orang tersebut sudah dibukakan oleh Allah Subhanahu wata'ala 

" Isho dadi kekasihe Allah niku nak
  Bashirohe sampun dibukak Allah,
  Sehingga apa yang dilihat oleh mata 
  Tidak ada artinya dibanding apa yang 
  Ditemukan oleh hati.." Dawuh beliau 

Sementara itu, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab beliau yang berjudul "Ma dza Fi Sya'ban" berpendapat, bahwa Sya'ban disebut sebagai bulannya Nabi Adalah karena ayat yang memerintahkan untuk bersholawat yaitu QS. Al-Ahzab: 56 turun di bulan Sya'ban tersebut 

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤئكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
 
Meskipun Kedua pendapat tersebut sedikit berbeda, namun pada intinya, tujuan pokok merayakan momentum bulan Sya'ban dan memperingati hari-hari besar Islam lain, seperti maulid, peringatan hijrah, isro' dan mi'roj adalah untuk mengaitkan umat dengan sejarah dan mengajarkan kepekaan keagamaan mereka dengan peristiwa bersejarah yang bernuansa agama, dimana hal itu bukan berarti mengkultuskan masa depan atau mempertahankannya. Akan tetapi, hal itu dilakukan sebagai bentuk pengagungan kepada Allah yang telah menciptakan peristiwa-peristiwa itu, Selain itu juga sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan pada seseorang yang telah dipilih dan dijadikan oleh Allah menjadi sebab terjadinya peristiwa besar yang bersejarah itu.

Lagian juga, sebagaimana maklum, bahwa Suatu masa itu menjadi mulia karena adanya beberapa peristiwa yang terjadi pada masa itu. Peristiwa itulah yang menjadi dasar atas diperolehnya suatu nilai yang diperhitungkan pada masa selanjutnya. Kadar kebesaran suatu peristiwa yang terjadi akan menjadi tolok ukur kebesaran yang diperoleh oleh suatu masa. sejauh mana kemuliaan suatu peristiwa yang terjadi pada masa itu, sejauh itu pula kemuliaan yang diperoleh oleh masa tersebut. Selama keberadaan manusia pada suatu peristiwa itu kuat dan dampak dari peristiwa itu sangat besar, maka keterkaitan dan pengaruh mereka terhadap masa itu juga akan besar dan kuat

إن الزمان يشرف بما يقع فيه من الحوادث التي هي الأصل في إعطاء القيمة الإعتبارية للزمان، وبمقدارها يكون مقداره، وبفضلها يكون فضله، وكلما كان ارتباط الناس بالحادثة قويا وتأثرهم بها عظيما، كان ارتباطهم وتأثرهم بالزمان الذي وقعت فيه بنفس القوة

Wallahu Ta'ala a'lam

0 Komentar